Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri...

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri..

Senin, 25 Juni 2012

SEMANGAT MEMBINA

Membina adalah salah satu agenda taurits. Untuk mewariskan suatu hal, apalagi itu adalah hal kebaikan yang harus dipegang oleh orang yang luar biasa, maka dibutuhkan pembinaan. Pembinaan dapat dilakukan secara berkala ataupun secara insidental. Namun, untuk membentuk pribadi yang luar biasa yang wajib adalah pembinaan berkala yang intim (akrab). Pembinaan tersebut dapat melalui halaqoh atau mentoring atau liqo atau cerdas atau apapun itu namanya. Karena yang ana tahu, intinya baik.
Semangat membina harus timbul dalam tiap kader dakwah. Karena dakwah ini tidak akan berhenti sampai akhir zaman nanti. Maka kita harus mencari pendamping dan penerus-penerus kinerja dakwah. Cara mencarinya adalah dengan membina. Membina berarti menjadi mentor atau murobbi menurut ana. Tidak hanya sekadar menjadi kaka yang bisa diajak curhat atau berbagi. Namun, jika memang ini mampu untuk melecut dan membangkitkan semangat kita dalam membina, ini sangat baik. Tidak salah kok, jadi tetap semangat untuk memantapkan hati untuk membina.
Membina bukan hanya penting dalam perkara taurits. Ia juga penting sebagai “bank ilmu”. Sebuah teko tidak dapat mengisi gelas jika teko tersebut tidak berisi. Begitu juga dengan manusia, jikalau ia tidak berilmu maka ia tidak dapat membagi ilmu ke orang lain. Menjadi mentor membuat kita semakin terus termotivasi untuk terus menambah tsaqofah Islamiyah. Air dalam teko pun akan menyebabkan timbulnya lumut dan membuat air menjadi keruh bila teko tidak bergerak. Dengan proses menambah ilmu (mengaji) dan memberikan ilmu (membina) membuat ilmu kita selalu fresh, up to date dan semakin melekat. Sebuah teko bila telah terisi penuh air juga akan tumpah, luber kemana-mana isinya bila tidak ada yang menampung, dan akhirnya air yang terbuang itu sia-sia, padahal usaha sudah dimaksimalkan pastinya untuk memenuhi teko tersebut. Begitu pula dengan manusia, ilmu yang kita punya jangan sampai terbuang percuma ataupun terlupakan karena tidak pernah kita sentuh dan terlalu penuh. Entah penuh dengan kesomobongan atau apa. Dengan berbagi ilmu, setidaknya kita menambah satu amal jariyah bagi kita, ilmu yang bermanfaat. Yang pahalanya apabila kebaikan ilmu itu dikerjakan orang lain, maka pahala dari kebaikan itu akan bertambah juga ke pundi pahala kita tanpa mengurangi sedikit pun pahala bagi yang mengerjakannya.
Demikianlah filosofi teko air dan gelas yang dapat ana paparkan. Setidaknya filosofi itu dapat sedikit demi sedikit melecut motivasi dan semangat ana pribadi dalam membina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar