Membina
adalah salah satu agenda taurits. Untuk mewariskan suatu hal, apalagi itu
adalah hal kebaikan yang harus dipegang oleh orang yang luar biasa, maka
dibutuhkan pembinaan. Pembinaan dapat dilakukan secara berkala ataupun secara
insidental. Namun, untuk membentuk pribadi yang luar biasa yang wajib adalah
pembinaan berkala yang intim (akrab). Pembinaan tersebut dapat melalui halaqoh
atau mentoring atau liqo atau cerdas atau apapun itu namanya. Karena yang ana
tahu, intinya baik.
Semangat
membina harus timbul dalam tiap kader dakwah. Karena dakwah ini tidak akan
berhenti sampai akhir zaman nanti. Maka kita harus mencari pendamping dan
penerus-penerus kinerja dakwah. Cara mencarinya adalah dengan membina. Membina
berarti menjadi mentor atau murobbi menurut ana. Tidak hanya sekadar menjadi
kaka yang bisa diajak curhat atau berbagi. Namun, jika memang ini mampu untuk
melecut dan membangkitkan semangat kita dalam membina, ini sangat baik. Tidak
salah kok, jadi tetap semangat untuk memantapkan hati untuk membina.
Membina
bukan hanya penting dalam perkara taurits. Ia juga penting sebagai “bank ilmu”.
Sebuah teko tidak dapat mengisi gelas jika teko tersebut tidak berisi. Begitu
juga dengan manusia, jikalau ia tidak berilmu maka ia tidak dapat membagi ilmu
ke orang lain. Menjadi mentor membuat kita semakin terus termotivasi untuk
terus menambah tsaqofah Islamiyah. Air dalam teko pun akan menyebabkan
timbulnya lumut dan membuat air menjadi keruh bila teko tidak bergerak. Dengan
proses menambah ilmu (mengaji) dan memberikan ilmu (membina) membuat ilmu kita
selalu fresh, up to date dan semakin melekat. Sebuah teko bila telah terisi
penuh air juga akan tumpah, luber kemana-mana isinya bila tidak ada yang
menampung, dan akhirnya air yang terbuang itu sia-sia, padahal usaha sudah
dimaksimalkan pastinya untuk memenuhi teko tersebut. Begitu pula dengan
manusia, ilmu yang kita punya jangan sampai terbuang percuma ataupun terlupakan
karena tidak pernah kita sentuh dan terlalu penuh. Entah penuh dengan kesomobongan
atau apa. Dengan berbagi ilmu, setidaknya kita menambah satu amal jariyah bagi
kita, ilmu yang bermanfaat. Yang pahalanya apabila kebaikan ilmu itu dikerjakan
orang lain, maka pahala dari kebaikan itu akan bertambah juga ke pundi pahala
kita tanpa mengurangi sedikit pun pahala bagi yang mengerjakannya.
Demikianlah
filosofi teko air dan gelas yang dapat ana paparkan. Setidaknya filosofi itu
dapat sedikit demi sedikit melecut motivasi dan semangat ana pribadi dalam
membina.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar