Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri...

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri..

Selasa, 19 Juni 2012

Ummi Yoyoh, Mutiara yang Telah Tiada


TUGAS UJIAN AKHIR SEMESTER
BIOGRAFI TOKOH

Dibuat sebagai Salah Satu Syarat Mata Kuliah Psikologi Perkembangan




Astri Septiani
3115111163




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MIPA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JUNI 2012



PROFIL TOKOH

Nama Lengkap: Yoyoh Yusroh, S.Pdi
inimonia.multiply.com
Tempat, Tanggal Lahir: Tangerang, 14 September 1962
Meninggal: Cirebon, 21 Mei 2012
Alamat : Perumahan Utama Jl. Utama IV No. 5 Pondok Bambu   Jakarta Timur
Agama: Islam
Status Pernikahan: Menikah
Suami: Budi Darmawan
Anak-anak:
1. Ahmad Umar Al Faruq | Fakultas Ekonomi UGM (menikah)
2. Aizza Jundana | Jurusan Hubungan Internasional di International University of Sarayevo
3. Asma Karimah | Fakultas Pertanian UGM (menikah)
4. Huda Robbani | Fakultas Hukum Universitas Indonesia
5. Sholahuddin Al Ayubi | Homeschooling
6. Ja'far Atthoyar | SMAIT Nurul Fikri
7. Salma Salimah | SMAIT JISC
8. Al Hafidz Muhammad Ayyasy | SMPIT Jakarta Islamic Boy Boarding School (JIBBS)
9. Walid Ghozin | SMPIT Darul Quran Serpong
10 Adil Gholib | SDIT Raflesia
11 Abdullah Aminuddin | SD Jakarta Islamic Boarding School
12 Helma Hamimah | SD Jakarta Islamic School
13 Rahma Rahimah | SD Jakarta Islamic School
Riwayat Pendidikan:
1. STAI Al Qudwah
2. IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, tahun 1982
3. PGAN Atas Pondok Pinang Jakarta, tahun 1979
4. PGAN Pertama Tangerang, tahun 1979
5. SDN Jurumudi II, tahun 1972
Riwayat Pekerjaan:
1. Guru agama SMU Bahagia tahun 1983-1984
2. Wakil Direktur Taman Qur an Robbi Rodhiyya tahun 1989-1991
3. Dosen Lembaga Studi Islam Al Hikmah tahun 1991-1997
4. Dosen Institut Pemberdayaan Perempuan (IPP) tahun 2001
5. Dosen Pendidikan Guru TK Islam Nurul Fikri tahun 2003
6. Pembimbing Utama Biro Perjalanan Haji PT Madani tahun 2002-2011
7. Anggota DPR/MPR RI tahun 1999-2004, Komisi VII
8. Anggota DPR/MPR RI tahun 2004-2009, Komisi VIII
9. Anggota Dewan Pakar ICMI Tahun 2005-2010, bidang Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Lansia
Tanda Jasa:
1. International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2000
2. International Muslim Women Union (IMWU) tahun 2003
3. Mubaligh National dari Departemen Agama Pusat tahun 2001
Pengalaman Organisasi:
1. Pendiri Adara International Foundation
2. Anggota Majelis Pertimbangan Pusat Partai Keadilan (2000 - 2011)
3. Ketua Umum I International Muslim Women Union (IMWU) (2000 - 2011)
4. Pimpinan Pusat Badan Kontak Majlis Ta'lim (2000 - 2011)
5. Pendiri Persaudaraan Muslimah (Salimah) (2000)
6. Ketua Departemen Kewanitaan Partai Keadilan (1998 - 2000)
7. Ketua Yayasan Ibu Harapan (1994 - 2011)
8. Korps Muballigh Jakarta (1982 - 1984)
9. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (1979 - 1980)
10 Pelajar Islam Indonesia (1980 - 1984)
Pengalaman Seminar:
* Narasumber dalam berbagai seminar masalah Wanita, Pendidikan Anak dan Keluarga di Indonesia (1990 - Sekarang)
* Peserta Pertemuan Tahunan UNION Interparlementaire di New York Amerika Serikat (Maret 2009)
* Peserta Seminar AIPA di Singapura (2008)
* Peserta Seminar Cairo Conference di Mesir (Maret 2008)
* Seminar IMSA, Amerika (Desember 2007)
* Panitia Kongres IMWUdi Jakarta (Desember 2007)
* Kongres Majelis A’la Urusan Agama, Cairo (26-28 Maret 2007)
* Narasumber Seminar tentang Peran Politik Perempuan di KBRI Den Haag Belanda (2005)
* General Assembly untuk Kependudukan dan Pembangunan (IFPPD) se-Asia Pasifik di Jakarta (2005)
* Peserta Seminar "A Women's Perspective: Population, Development and Reproductive Health in the Asia-Pacific Region" di Australia (2004)
* Narasumber Seminar Pendidikan Anak dan Keluarga di Qatar (2004)
* Peserta Seminar Muslimah yang diselenggarakan oleh Lembaga Annajat Beirut (Agustus 2003)
* Panitia Kongres III IMWU di Jakarta (April 2003)
* Narasumber pada acara Forum Muslimah se-Singapura (2000)
* Narasumber pada seminar Keluarga yang diselenggarakan oleh Masjid Kampung Siglap Singapura (2000)
* Peserta Kongres II International Muslim Women Union (IMWU) di Beirut Libanon (Januari 2000)
* Narasumber pada seminar Pendidikan Anak yang diselenggarakan oleh Majelis Agama Islam Singapura (1997 - 1998)
* Narasumber pada diskusi tentang Wanita dan Politik di Kediaman Wan Azzizah di Malaysia (1998)
* Narasumber pada acara ceramah Pendidikan Anak dan Keluarga di Jerman, Belanda, Swiss, dan Mesir (1995)

1.        Pilih dan tulis secara ringkas tokoh yang Anda kagumi!

Saya akan membahas biografi tokoh pada periode perkembangan dewasa awal, yaitu antara usia 20-40 tahun.

Tokoh yang saya pilih adalah Ibu Hj. Yoyoh Yusroh, S.Pdi. Beliau lahir di Batuceper, Tangerang, 14 November 1962. Yoyoh Yusroh adalah anak ke-4 dari 10 bersaudara dari orang tua alm H. Abdussomad dan Hj. Aminah. Ketiga kakaknya yang lahir sebelum Ummi (panggilan akrab Yoyoh Yusroh) ditakdirkan Allah tidak berumur panjang.

Sepanjang perjalanan berangkat ke kantornya, Ummi terbiasa membaca Al-Qur’an sebanyak satu juz. Begitu pulangnya. Minimal Ummi punya target 3 juz harus beliau baca seharinya.

Seorang kawan di DPR pun memberi kesaksian tentang kebiasaan Ummi membaca Al-Qur’an. Roy Suryo menyaksikan sendiri betapa Ummi sering membawa iPad yang digunakan untuk membaca Al-Qur’an. Dalam kondisi sibuk, target beliau adalah khatam tiga juz sehari. Jika dalam kondisi yang tidak sibuk, maka beliau bisa khatam lima juz per hari.

Pada tahun 1996 Ummi dan Abi diizinkan Allah berjumpa dengan Ustadzah Zainab al-Ghazali, salah satu pejuang yang terkenal di Timur Tengah. Salah satu tips dari beliau yang Ummi bawa pulang ke Indonesia adalah untuk menjaga kesehatan, minumlah habbatussauda atau yang lebih sering dikenal jinten hitam. Tak heran jika Ummi dikenal sebagai figur yang tidak gampang lelah.

Secara khusus Ummi memang tidak punya olahraga favorit, teteapi ada ssatu kebiasaan beliau, yaitu berjalan kaki. Ummi amat suka berjalan kaki, bahkan sekedar mengitari kediamannya di kompleks DPR. Olahraga yang Ummi lakukan di aktivitasnya yang padat sebagai anggota dewan adalah menaiki tangga di gedung DPR. Ummi menghindari pemakaian lift agar bisa berolahraga.

Ummi mempunyai buku khusus untuk mencatat hutang-hutangnya. Buku ini biasa beliau letakkan di samping tempat tidur. Ummi akan mencatat per tanggal terakhir transaksi hutang-piutang dilakukan. Anehnya, buku tersebut tidak ditemukan setelah Ummi meninggal. Keluarga berkesimpulan bahwa Ummi telah membuangan dua minggu sebelum meninggal karena sudah tidak mempunyai hutang.

Agen rahmatan lil alamin yang Ummi niatkan selalu teraplikasi dalam setiap gerak langkahnya. Ummi bukanlah seorang ibu yang merasa direpotkan denga keberadaan 13 anaknya. Itu terbukti dengan pekerjaan yang senantiasa rapi serta meminimalkan kekecewaan orang atas kerjanya dalam setiap tugas yang diemban.

Awal Ummi menjadi anggota DPR RI adalah saat Ummi diminta rekannya dalam periode PAW (Pergantian Antar Waktu). Pada periode 2004-2009 Ummi terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Depok Bekasi dengan Partai Keadilan yang mengusungnya. Pada periode 2009-2012, Ummi kembali diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera dan terpilih dari daerah pemilihan Tangerang Provinsi Banten.

Ummi tiga kali berada di DPR RI dalam komisi yang berbeda, diantaranya, Ummi pernah berada di Komisi I dengan ruang lingkup kerja dalam bidang pertahanan, intelijen, luar negeri, serta komunikasi dan informatika. Periode selanjutnya, Ummi berada di Komisi VII, dengan ruang lingkup kerja di bidang energi SDM, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup. Di akhir periodenya, Ummi fokus dengan ruang lingkup kerja di bidang agama, sosial, dan pemberdayaan perempuan yang berada di Komisi VIII.

Ummi adalah seorang pejuang. Sewaktu masih muda, tahun 80-an, Ummi memperjuangkan pencabutan larangan berjilbab untuk anak sekolah. Selanjutnya Ummi berjuang untuk menyeimbangkan antara kesibukkannya di DPR, mengurus keluarga, mengajar ngaji serta berdakwah. Bahkan, sampai akhir hayatnya Ummi tetap berjuang untuk Palestina, meskipun hanya sekedar menggalang dana dan membelikan alat-alat kesehatan untuk dia bawa ke Palestina.

Siapapun  manusia di dunia ini, baik ulama, cendekiawan, dokter, psikolog, paranormal atau apapun statusnya, tidak akan tahu kapan hari, jam dan tanggal kematiannya. Karena kematian seseorang merupakan hak prerogatif Allah SWT yang tidak pernah diumumkan kepada manusia.

Ummi menghembuskan nafas terakhirnya saat perjalanan pulang ke Jakarta. Sehabis Ummi menghadiri wisuda anaknya di UGM, beliau menyempatkan diri untuk bersilahturahim ke rumah saudara di Solo dan Tegal. Sehingga tiba di Tol Kanci, kecelakaan menimpa mobil yang Ummi tumpangi. Selanjutnya Ummi dibawa ke RS Mitra Plumbon Cirebon, dengan ayat-ayat Al-Qur’an masih tetap dilantunkan Ummi. Namun karena luka yang Ummi derita cukup parah, Ummi pun mengucapkan syahadat terakhir dan menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit tersebut. Ummi meninggal dengan senyum tersungging di wajahnya.

Berikut adalah kesaksian Neno Warisma tentang Ummi. Bunda Yoyoh adalah cucuran air mata air yang bening. Berparas dan berpostur biasa, namun kekuatan hati beliau dan kemampuan manajerial serta keunggulan dalam akalnya, menjadikan Almarhumah pantas menjalani sebagian besar hidup sebagai pemimpin. Sukacitalah hati kedua orang tua beliau yang saleh, mendapati anak mereka kelak bercengkrama dengan Bunda Khadijah, Bunda Aisyah, dan sebagaimana yang Almarhum dambakan.

Petikan Kehidupan Ustadzah Yoyoh Yusroh:

Sosoknya memang sangat sederhana dan bersahaja, keberadaannya telah memberi nuansa baru di ruang rapat Komisi VIII DPR. dia merupakan salah satu dari ke-4 orang pimpinan Komisi VIII DPR yang membidangi masalah agama, sosial dan pemberdayaan perempuan. Menurutnya,keberadaannya DPR merupakan suatu amanah yang sangat berat. "kedudukan saya di DPR adalah merupakan amanah, prinsip kami di DPR bukan sekedar untuk kepentingan pribadi, namun keberadaan di DPR untuk berkontribusi melalui anggaran, legislasi aturan supervisi dan DPR juga kita jadikan suatu mimbar dakwah dan sebuah universitas untuk menimbah ilmu,"kata ibu dari 13 orang putra-putri ini.

Yoyoh Yusro merupakan perempuan yang sangat getol berorganisasi bahkan semenjak masih remaja, dirinya sudah aktif mengikuti organisasi seperti pelajar islam Indonesia, tahun 1980an, bahkan juga pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. Menurut Yoyoh keaktifannya di sejumlah organisasi dan LSM dilakukan semata-mata untuk menegakkan amar ma'ruf nahi munkar. "hal yang terpenting untuk menegakkan amar ma’ruf ini adalah dengan memberikan contoh secara nyata serta melakukan pendekatan secara persuaif sehingga tidak menimbulkan rasa antipati dari orang lain," paparnya.

Disamping amar ma’ruf nahi munkar, mengenai money politikpun dirinya tidak bergeming. "waktu itu saya kunker ke Jabar guna meninjau proyek-proyek pemerintah yang terkait dengan Komisi VIII. mereka saat presentasi mengatakan kekurangan dana. tetapi pulangnya mereka mengajak makan di tempat yang sangat representatif. dan di bandara kita diberi amplop. Saya tanya ini untuk apa, Pak? dia bilang sebagai tanda cinta karena biu sudah meluangkan waktu menengok proyek kami. langsung saya jawab lo, katanya bapak kekurangan dana tetapi kok masih memberikan kepada kami. Kami ini sudah berkecukupan, pak. akhirnya setelah berdebat cukup lama. uang itu saya sumbangkan kembali ke lembaga mereka dan saya minta kwitansi agar tidak terjadi kesalahpahaman," kata Yoyoh.

Yoyoh mengatakan menjadi suatu suara yang minor memang sangat berat, namun menurutnya bagaimana cara kita mengkomunikasikan dengan teman-teman lainnya, bukankah kita ingin menjadikan DPR menjadi suatu lembaga yang bersih dan benar-benar pembela rakyat. "jadi menurut saya harus kita mulai dari masing-masing anggota bahwa kita tidak hanya dipantau oleh konstituen tapi juga oleh yang diatas sang pencipta dengan pemikiran seperti ini kita bisa menjadi lebih bertanggung jawab," tandasnya.

Perempuan yang memiliki 13 orang putra/putri ini, mengatakan mendidik anak itu harus dengan metode yang tepat karena masing-masing anak memiliki banyak keistimewaan masing-masing. Yoyoh menuturkan dirinya menggunakan metode komunikasi dialogis untuk mengembangkan dan menumbuhkan potensi dari masing-masing anak. "saya akan berusaha menjelaskan kesibukkan saya dengan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti, jika mereka bertanya ngapain saja sih Ummi keluar rumah terus? saya jawab bahwa saya mengajak mereka berda wah, mengajak mereka solat, berbuat baik dan mengajak mereka supaya tidak berantem," katanya.

Permasalahan prinsip pendelegasian tugas kepada anak juga menjadi perhatian yang besar dari seorang Yoyoh Yusro. "anak pertama bertugas ke anak nomor 5, anak nomor 2 bertanggung jawab pada anak no.6, anak nomor 3 bertanggung jawab pada anak no.7 demikian seterusnya," kata Yoyoh.

Ketegasan juga menjadi prinsip utama kunci keberhasilan dalam mendidik anak. "kalau Ramadhan saya tegas katakan, TV off, saya lebih suka mereka naik sepeda sampai berkeringat daripada duduk diam didepan TV. saya mengikuti cara sahabat nabi dalam mendidik anaknya, jadi waktu ramadhan adalah waktu untuk berkonsentrasi kepada Al-qur an," tegas Yoyoh, disamping itu, Yoyoh juga menerapkan prinsip keterbukaan antara orangtua maupun anak-anak.

2.        Kemukakan alasan Anda memilih tokoh tersebut!

Saya memilih Yoyoh Yusroh karena ingin semakin meningkatkan pengetahuan dan kecintaan saya pada sosok beliau. Sosok yang dapat menjadi panutan. Perjuangannya sudah terlihat semenjak dia masih kecil, seperti yang telah saya tuliskan di ringkasan biografi di atas. Ummi aktif di organisasi kemahasiswaan, mencintai lingkungannya dengan mengajarkan mengaji dan menebarkan senyum sapa salam, totalitas di pekerjaanya terutama sebagai anggota dewan  yang otomatis mewakili masyarakat di semua kalangan. Hal yang terlebih penting, Ummi tetap menyayangi keluarganya, mendidik anaknya dan membagi waktu dengan ideal. Ketiga belas anaknya sudah akrab dan sebagian besar hafal Al-Qur’an. Anaknya pun tidak sembarangan di sekolahkan, ada yang berakhir di Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia dan Universitas Sarayevo di Bosnia. Ini sebagai tanda, beliau tetap mencintai keluarga selain mencintai pekerjaan dan dakwahnya. Setiap perkembangan dan periode hidupnya dapat diambil hikmahnya. Waktunya dihabiskan untuk hal-hal yang positif. Hal yang paling saya kagumi dari beliau adalah beliau muslimah, tapi tidak sama sekali merasa diberatkan dengan predikatnya itu. Muslimah yang dapat menjadi anggota dewan, bisa menjadi narasumber seminar di luar negeri, aktif di organisasi-organisasi dalam negeri dan luar negeri.

3.        Analisis biografi tokoh tersebut berdasarkan aspek-aspek perkembangan! (sesuai periode perkembangan yang Anda pilih)
Saya akan menganalisis biografi tokoh berdasarkan aspek-aspek perkembangan pada periode perkembangan dewasa awal, yaitu antara usia 20-40 tahun.

a.         Fisik
Perkembangan fisiknya telah mencapai tahap matang. Sehingga, ia mampu untuk mengerjakan tugas-tugas rutinnya sebagai istri, ibu dan juga anggota dwan. Ummi juga mampu menjaga kesehatan fisiknya dengan rutin mengkonsumsi jinten hitam dan olahraga lari pagi.

b.        Intelektual
Perkembangan intelektualnya pada periode dewasa awal juga sudah mencapai tahap matang. Ditambah lagi dengan pendidikan S2 yang telah beliau tamatkan. Dengan intelektualnya, beliau dapat maju sebagai narasumber seminar setingkat internasional. Ummi juga mendirikan beberapa organisasi yang masih bertahan sampai sekarang. Ummi menjadi seseorang yang selalu dimintai nasihat oleh orang disekelilingnya, karena kemampuannya dalam mencarikan solusi dari masalah dengan pendekatan yang sederhana, namun tepat sasaran.

c.         Sosial
Yoyoh dengan amat mudah memasuki setiap kalangan. Dari kalangan bawah seperti tetangga di rumahnya dahulu sampai kalangan atas, para anggota dewan DPR RI. Kemampuannya dalam bersosialisasi tak perlu diragukan lagi. Dapat dilihat dari jumlah orang yang melayat saat Ummi meninggal. Dapat pula kita lihat dari diterimanya ia dengan mudah di lingkungan DPR.

d.        Moral
Ummi lahir dari keluarga ustadz, yang artinya kemungkinan moralitasnya lebih terjaga dibanding keluarga lainnya. Ditambah dengan kesadaran dirinya sendiri untuk selalu memperbaiki diri, karena dia ingin menjadi orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Otomatis, beliau harus memiliki moral yang baik.

e.         Bahasa
Kemampuan bahasa yang Ummi miliki memang hanya bahasa Indonesia. Dia hanya sedikit mampu untuk berbahasa Inggris dan Arab. Namun beliau dapat mengatasi kekurangannya itu dengan mengajak salah satu menantunya yang fasih berbahas Arab saat berkunjung ke negara-negara Timur Tengah.

f.          Emosi dan Perasaan
Perkembangan emosi dan perasaannya dapat dikatakan normal. Karena beliau selalu mengedepankan kebiasaan-kebiasaan Islami yang selalu dapat menjaga perasaanya. Dia selalu berhusnudzhon, tidak suka berburuk sangka. Pengalaman hidupnya yang sudah panjang membuatnya lebih legowo atau lapang dada dalam menyikapi permasalahan hidup.

g.         Minat
Minatnya pada mengajar terlihat besar, terutama pada saat usia SMP-nya. Beliau menamatkan sekolah setingkat SMA di PGAN (Pendidikan Guru Agama Negeri). Namun, terjadi sedikit penyimpangan saat dia memasuki dunia perkuliahan. Di dunia perkuliahan ini terlihat minat dia ke arah politik. Karena sikapnya yang selalu ingin berjuang, berjuang untuk melawan kedzoliman.

h.        Motivasi
Motivasi terbesarnya adalah ridho Allah SWT. Seperti yang sering dia katakan, bahwa Ummi melakukan semuanya semata-mata untuk amar ma’ruf nahi munkar. Motivasi eksternal lahir dari orang tuanya yang memang seorang ustadz atau ahli agama di kampungnya dan menginginkan anaknya melanjutkan profesinya tersebut.

i.           Sikap
Proses pembentukkan sikap yang Ummi alami adalah pembentukan secara bertahap. Beliau selalu belajar dari pengalaman dan cerita-cerita pendahulu, agar beliau tidak mengulang kesalahan atau kekeliruan yang sama. Sikapnya selalu hormat, terutama pada orang yang lebih tua, dan sangat sayang pada yang lebih muda. Ucapannya selalu lemah lembut diiringi dengan kebijakan dan intelektual yang dia miliki.

j.          Kepribadian
Kepribadian yang Ummi miliki sehat. Dia mandiri dalam berbagai hal. Tidak bergantung pada orang lain dan selalu memaksimalkan diri dalam berbuat. Menurut saya tipe kepribadian beliau adalah plegmatis. Karena beliau memiliki kemampuan memimpin yang baik, berjiwa tenang dan tidak suka dengan kerusuhan, selalu ingin mendamaikan masalah dan teguh pendirian.

k.        Bakat dan Kreativitas
Bakat dan kreativitasnya kurang terlalu terlihat bila dikaitkan dengan seni. Bakat beliau lebih ke arah politik dan perjuangan. Beliau memiliki banyak cara saat berdakwah, mungkin inilah salah satu kreativitasnya.


4.        Analisis hal-hal (apa dan siapa) yang menunjang tokoh tersebut menjadi sukses!

Orang tua, suami dan anak-anaknyalah yang menunjang keberhasilannya. Orang tua yang pertama kali mengenalkannya dengan Islam dan menuntut ilmu. Sewaktu kecil, pagi sampai siang bersekolah di SD Negeri Jurumudi II kemudian sore harinya Ummi belajar agama di Madrasah al-Islahuddiniyah. sIbarat kata, pagi sampai dengan siang mengejar ilmu dunia dan siang sampai dengan sore mengejar ilmu akhirat. Saat mulai berumah tangga, Ummi mendapat dukungan penuh dari suaminya untuk tetap melanjutkan kuliahnya dengan seabrek organisasinya. Syarat yang suaminya kasih adalah agar Ummi mampu menyeimbangkan dengan kehdupannya di kampus dengan di rumah. Ketika Ummi mulai memiliki anak, dan anak-anaknya mulai dewasa, mereka bukannya malah melarang Ummi untuk tetap eksis, anak-anaknya tersebut malah mengikuti jejak Ummi.

DAFTAR PUSTAKA
GIP, Tim. 2011. Yoyoh Yusroh, Mutiara yang Telah Tiada. Jakarta: Gema Insani
Sri Widodo, S.Kom (2011). “Profil Alm Ustazah Yoyoh Yusroh”. [ON LINE]    Tersedia: http://www.pks-sukoharjo.org/index.php?option=com_content&view=article&id=70:art-profil-yoyoh-yusroh&catid=29:cat-tokoh-nasional&Itemid=85 . Diakses 2 Juni 2012. 09.35.
Yunda Hamasah (2011). “In Memoriam Ustazah Yoyoh Yusroh”. [ON LINE} Tersedia: http://yundahamasah.blogspot.com/2011/05/in-memorian-ustadzah-yoyoh-yusroh.html . Diakses 3 Juni 2012. 21.00.

PENDIDIKAN UNTUK DAERAH PERBATASAN BUKANLAH HAL YANG SULIT

PENDIDIKAN UNTUK DAERAH PERBATASAN BUKANLAH HAL YANG SULIT
Astri Septiani

ABSTRAK
Pendidikan adalah kebutuhan, bahkan sudah dianggap kebutuhan primer. Semua kalangan membutuhkannya, termasuk mereka yang tinggal di daerah 3T. Mereka butuh pendidik untuk memenuhi kebutuhannya akan pendidikan. Bukan hal sulit untuk memenuhi kebutuhan mereka ini. Sudah banyak orang di Indonesia yang memenuhi kebutuhan mereka atau bahkan hanya sekedar memikirkan dan mendermakan sedikit hartanya untuk pendidikan di sana. Cerita-cerita indah nan mengaggumkan banyak terukir di daerah yang belum terjamah kemoderenisasian pendidikan. Beberapa cerita tersebut berasal dari para pengajar muda yang berada di bawah yayasan Indonesia Mengajar asuhan Anis Baswedan.
kata kunci: pendidikan, daerah 3T, pendidik, pengajar muda, Indonesia Mengajar

A.           LATAR BELAKANG


          Pendidikan adalah kebutuhan. Setiap manusia berhak akan pendidikan, hal ini sudah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan dibutuhkan oleh manusia sebagai salah satu faktor pendukung kehidupannya. "Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang."[1] Menurut ayat tersebut pendidikan berguna untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bila tanpa pendidikan maka bisa kita analisis apa yang akan terjadi, bangsa ini akan semakin mengalami krisis iman dan taqwa. Maka dari itu saya menyebutkan bahwa pendidikan adalah sebuah kebutuhan setiap individu. Sebagaimana kita ketahui bahwa kebutuhan manusia dibagi menjadi tiga, primer, sekunder dan tersier. Zaman dahulu, oleh beberapa kalangann pendidikan masih dikategorikan sebagai kebutuhan tersier, hal mewah yang sulit dijangkau dan kurang penting. Namun, di era modern saat ini, pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer manusia. Susah payah para orang tua mencari dana untuk pendidikan anaknya, tak sedikit pula ada orang tua yang mengatakan, “lebih baik saya mah ga makan, daripada anak ga sekolah.” Ini lah kemajuan berpikir manusia menurut saya.
Bukan hal sulit untuk mencari sarana dan prasarana pendidikan di kota-kota besar, Jakarta misalnya. Secara rinci, jumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Jakarta sebanyak 2.244 buah dengan jumlah peserta didik mencapai 670.599 murid dan SD Swasta sebanyak 753 buah dengan 192.323 murid. Jumlah SMP Negeri yang ada di DKI Jakarta mencapai 306 sekolah dengan 227.722 pelajar dan SMP swasta sebanyak 631 buah dengan jumlah pelajar 135.464 orang. Sementara, jumlah Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) sebanyak 116 buah dengan 91.886 siswa dan SMA Swasta sebanyak 381 buah dengan jumlah siswa 85.731 orang. Tercatat 62 buah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) di Jakarta dengan jumlah siswa sebanyak 41.830 orang dan SMK Swasta sebanyak 512 buah dengan 157.751 siswa.[2]
Namun, kenyataan tersebut harus diiringi dengan kenyataan pula bahwa pendidikan untuk anak-anak yang ada diperbatasan, baik itu perbatasan provinsi maupun perbatasan negara, jauh dibawah kata layak. Hal ini ditambah lagi dengan kekhwatirang akan status nasionalisme anak-anak di perbatasan Indonesia. Dimana, saat mereka melihat sekolah-sekolah di negeri tetangga jauh lebih baik dengan gedung sekolah yang mereka miliki di daerahnya. Begitu juga dengan sarana lainnya, di perbatasan Malaysia-Indonesia misalnya, siapapun termasuk anak Indonesia yang bersekolah di Malaysia akan mendapatkan sarana berupa laptop per anak, namun dengan sarana memadai tersebut, anak Indonesia harus menjadi anak asuh orang tua di Malaysia.
Hal di atas baru saya kemukakan dari segi sarana, bagaimana dengan guru, seorang pendidik, pahlawan tanpa tanda jasa. Yang saya ketahui bahwa pahlawan  adalah mereka yang tulus ikhlas mengorbankan dirinya untuk kemerdekaan dan kesejahteraan negerinya. Hidup memang pilihan, tetap pilihan tersebut kembali pada pribadinya masing-masing. Ada guru yang memutuskan untuk tetap menjadi pengajar di kota dengan berbagai alasan, dari segi upah yang diterima, kondisi lingkungan dan merawat keluarga. Namun, ada pula mereka yang terketuk pintu hatinya, untuk menjadi seorang guru di perbatasan. Mendermakan hidup untuk menunaikan salah satu janji kemerdekaan bangsa ini, mencerdaskan anak bangsa, mencerdaskan anak-anak di perbatasan yang belum terjamah dengan sarana prasarana pendidikan yang layak seperti di kota-kota besar. Namun, bukan maksud saya bahwa mereka yang menjadi guru di kota besar tidak terketuk pintu hatinya, tapi sekali lagi ini adalah sebuah pilihan hidup.
Berarti dalam hal ini, pendidikan untuk perbatasan bukan lagi hal yang sulit, sulit memang, namun dapat diupayakan. Namun, bagaimana mengupayakannya? Adakah kisah-kisah atau pengalaman-pengalaman luar biasa dari mereka yang telah mengupayakannya?

B.            PEMBAHASAN
Guru adalah profesi mulia. Profesi yang dilandasi oleh rasa cinta, cinta untuk menjadikan anak didiknya sebagai anak kebanggaan bangsa, yang dapat bertanggung jawab pada dirinya sendiri dan pada negara dan agamanya. Akan tetapi, perjalanan para guru untuk meraih tujuan besarnya tak semulus yang diharapkan. Banyak hambatan yang mereka hadapai. Pergolakan batin dari diri mereka terkadang menjadi hal berat yang harus terlewati. Mereka ingin mengabdi secara total untuk pendidikan bangsa, namun dilain sisi mereka juga harus mengurusi keluarga dan merawat serta mendidik anaknya. Sejumlah persoalan lainnya adalah keluhan akan kesejahteraan para guru, juga dengan kesenjangan yang dirasakan guru yang mengajar di kota dengan di non perkotaan.
Daerah terluar, terdepan dan tertinggal (daerah 3T) adalah daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia. Minimnya sarana serta prasarana serta letak geografis adalah masalah yang muncul dari daerah ini. Sangat sedikit, dari para guru untuk hadir di sana. Untuk mereka yang telah di sana pun masih harus menelan pil pahit, menahan “kecemburuan” dengan negeri tetangga, yang letaknya tak jauh dan terlihat jelas dari tempat mereka mengajar. Para guru Malaysia perbatasan misalnya, mereka sangat mendapatkan jaminan dari negaranya, difasilitasi secara layak dan diperlakukan adil dengan daerah lainnya. Sehingga, pendidikan yang berkualitas dapat terlaksana.
Seorang guru SMAN Badau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Agustinus mengungkapkan, sekolah tempatnya mengajar hanya berjarak sekitar 100 meter dari batas negara Indonesia dan Malaysia.  “Negara tetangga jauh lebih baik dan menjanjikan. Sementara fasilitas yang kami terima sangat terbatas, buku penunjang yang minim, dan ada juga sekolah yang harus meminta listrik dari negara tetangga,” kata Agustinus. Ia menambahkan, dari sisi kesejahteraan, guru-guru di daerah perbatasan juga sangat memprihatinkan. Tunjangan yang diberikan oleh pemerintah melalui tunjangan profesi dan tunjangan khusus guru daerah perbatasan masih bias dan tidak jelas. Di Kampas Hulu terdapat tiga kecamatan yang berbatasan langsung dengan Malaysia, yaitu Kecamatan Badau, Kecamatan Empana, dan Kecamatan Puring Kencana. Dan hanya ada satu SMA di tiga kecamatan tersebut. “Maka tak heran jika ada anak-anak yang kemudian sekolah ke Malaysia. Selain menjanjikan, tamatan SMA di sana juga mendapatkan sertifikat life skill dan bisa kerja di Malaysia dengan gaji yang lumayan,” kata Agustinus.[3]
Anak didik sudah tersedia di daerah 3T. Yang mereka butuhkan saat ini adalah adanya pendidik, pendidik yang dapat mendidik mereka dengan kuantitas dan kualitas yang memadai. Tidak terlalu penting dengan adanya sarana serta prasarana, karena menurut mereka dengan adanya guru sudah lebih dari cukup untuk membantu mereka belajar.
          Mengajar di daerah 3T menjadi hal mudah untuk menjadikannya berkualitas jikalau yang mengajar adalah guru atau mereka yang paham dengan pendidikan. Kriteria ini dapat dengan mudah dipenuhi oleh para pemuda, karena mereka mendapat pengajaran lebih dibandingkan guru dizaman dahulu. Seperti pepatah yang sering kita dengar “saatnya yang muda yang berkarya.”
Ya, memang saatnya kami yang muda yang berkarya, berbuat baik pada nusa bangsa, melunasi janji kemerdekaan, mencerdaskan anak bangsa. Perguruan-perguruan tinggi yang lokasinya berada di dekat daerah 3T sudah mulai menugaskan mahasiswanya untuk kuliah lapangan di daerah 3T tersebut.
Universitas Pertahanan (Unhan) akan mewajibkan mahasiswanya mengikuti kuliah kerja dalam negeri (KKDN) di wilayah-wilayah perbatasan. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat program pembangunan di perbatasan, baik dari segi pendidikan maupun pertahanan. Wakil Rektor Unhan Mayjen TNI (Mar) Syaiful Anwar mengatakan, setiap program studi di Unhan mewajibkan tiap mahasiswa pascasarjana untuk mengikuti kuliah kerja luar negeri (KKLN) dan KKDN. Untuk KKDN difokuskan di wilayah perbatasan sekaligus sebagai bentuk pengabdian masyarakat. “Mereka melakukan penelitian ke masyarakat di perbatasan. Diharapkan, hasil temuan mereka di lapangan bisa bermanfaat dalam konteks akademik maupun sebagai masukan ke pemegang kebijakan,” kata Syaiful di selasela seminar internasional pertama bertema “Pendidikan Berkualitas dan Terjangkau” di Jakarta.[4]
Universitas Pertahanan sudah difasilitasi oleh rektornya, bagaimana dengan kita yang belum terfasilitasi akan hal itu. Apakah kita hanya berpangku tangan dengan keterbatasan yang sebenarnya dapat diperjuangkan ini? Tentu saja  jawabannya tidak. Bila kita takut untuk memulainya dengan ujuk-ujuk atau tiba-tiba pergi ke sana sendiri, kita dapat melirik Yayasan Indonesia Mengajar yang berada dibawah asuhan Anis Baswedan.
Yayasan Indonesia Mengajar mengirimkan lima puluh satu putra-putri terbaik bangsa pada angkatan pertamanya. Memang putra-putri yang terbaik yang diambil, karena tujuan Gerakan Indonesia Mengajar yang sering Pak Anis katakan adalah meletakkan yang terbaik agar tumbuh lagi yang terbaik.
Sejak Gerakan Indonesia Mengajar diumumkan pada Mei 2010, kita seakan ditunjukkan dengan wajah lain tentang anak-anak muda Indonesia. Sejak awal sudah jelas-jelas dinyatakan bahwa kegiatan ini akan menempatkan anak-anak muda di pelosok negeri, yang sebagian besar belum terjamah listrik ataupun sinyal telepon seluler. Tetapi tantangan ini justru dijawab secara kolosal. Ada 1.383 anak muda menyatakan siap untuk jadi guru di daerah terpencil. Mereka menulis esai yang sangat menggugah. Mereka beberkan segala alasan mengapa mereka siap, mereka sanggup, dan mereka ingin sekali menjadi guru di pelosok negeri. Mereka seakan menuliskan: Indonesia, aku ingin mengajar. Kami tertegun![5]
Anak-anak muda yang sudah terlanjur terlabelkan negatif oleh masyarakat, sebagai mereka yang sedang menikmati kebebasan serta tidak peduli lingkungan, terbantahkan seketika oleh kenyataan tersebut. Mereka yang seolah-olah mengatakan “Indonesia, aku ingin mengajar.” Padahal sebagian besar dari mereka bukanlah mahasiswa dengan gelar sarjana kependidikan, namun mereka siap untuk mendidik dengan aturan pendidikan yang sesuai dan yang mereka pahami. Mereka telah membuktikan dengan hadir di daerah-daerah yang tergolong 3T ataupun terpencil, seperti di Bengkalis Riau, Paser Kalimantan Timur, Majene Sulawesi Barat, Halmahera Selatan dan lain sebagainya.     

       Berbagai cerita dituliskan oleh para pengajar muda, ada beberapa yang diabadikan dalam buku Indonesia Mengajar ada pula yang mereka tulis di blog-blog pribadinya sebagai bahan pembelajaran bagi kawannya yang lain. Cerita mereka sangat variatif. Seperti pengalaman seorang pengajar muda di Halmahera Selatan berikut.
          Ada seorang anak di Halmahera Selatan yang dijuluki “anak berbahasa angka” oleh pengajar muda disana, karena anak tersebut sangat pandai hitung-hitungan, dia memiliki trik untuk berhitung cepat, dengan gaya dia sendiri. Ini sungguh mengagumkan, yang sering kita tahu di pelosok adalah daerah dimana mereka yang  sedikit terbelakang dalam pengetahuan, ternyata ada Upi, nama anak berbahasa angka ini, yang pandai berhitung cepat.
          Ada lagi seorang anak yang bernama Rizki Ramlan, dia dari Tamaluppu, sebuah tempat yang lebih terpencil dari Passau yang sudah terpencil di Majene, Sulawesi Barat. Keinginannya untuk belajar sungguh mengharukan seorang pengajar muda di sana, Erwin Puspaningtyas Irjayanti. Keinginannya untuk tahu semua pengetahuan sangat besar, namun hal ini terhambat dengan sifat pemalunya. Bahkan untuk bertanya dengan gurunya saja dia malu untuk berbicara langsung, seringnya ia mengirimkan surat kecil yang digumpalkan dan dilemparkan lewat jendela. Pernah disalah satu surat kecilnya Rizki bertanya, “Kapan Tamaluppu akan mengalami musim salju seperti di Amerika?”[6]
          Keajaiban-keajaiban yang ditemukan oleh para pengajar muda tak lain juga berkat keikhlasan mereka dalam mengajar. Mengajar sepenuh hati untuk kebaikan para anak didik disana. “When we do the best that we can, we never know what miracle is wrought in our life, or in the life of another.”[7]
          Itu hanya sebagian kecil dari pengalaman-pengalaman para pengajar muda dari buku yang saya baca, itu baru halaman-halaman awal, mungkin di halaman selanjutnya akan semakin bertambah rasa ingin kita untuk mengajar di sana.
          Para pengajar muda mengemban kewajiban untuk mendidik adik-adik yang belum mendapatkan pendidikan berkualitas dari pemerintah. Mengajar dengan hati nurani dan keinginan untuk mencerdaskan anak bangsa. Berusaha maksimal dengan segala keterbatasan yang ada. Berusaha memaksimalkan kualitas diri agar dapat mendidik anak-anak di sana dengan cara yang terbaik. Menanamkan rasa nasionalisme dalam diri mereka dengan dilandasi keimanan dan ketakwaan. Seperti misalnya pengaplikasian belajar yang benar pada pelajaran IPS.
         Pendidikan IPS di sekolah dasar seharusnya membuahkan hasil belajar berupa perubahan pengetahuan, dan keterampilan yang sejalan dengan tujuan kelembagaan sekolah dasar. Sebagaimana dijelaskan dalam Kurikulum 1994, bahwa penyelenggaraan pendidikan di sekolah dasar bertujuan: (1) mendidik siswa agar  menjadi manusia Indonesia seutuhnya berdasarkan Pancasila yang mampu membangun dirinya sendiri serta ikut bertanggung jawab terhadap pembangunan bangsa; (2) memberi bekal kemampuan yang diperlukan bagi siswa untuk melanjutkan pendidikan ketingkat yang lebih tinggi; dan (3) memberi bekal kemampuan dasar untuk hidup di masyarakat dan mengembangkan diri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dan lingkungannya (Depdikbud, 1994).[8]
          Izinkan anak-anak SD di pelosok itu mencintai, meraih inspirasi, dan
berbinar menyaksikan kehadiranmu. Setelah selesai program ini maka label Pengajar Muda akan menempel seumur hidup. Anak-anak muda ini kenal dan menjadi bagian dari rakyat jelata. Anak-anak muda berprestasi ini pernah hidup bersama mereka di pelosok sana, dan yang terpenting adalah sebagai anak muda mereka telah ikut sekecil apapun mendorong kemajuan, mengubah masa depan saudara-saudara sebangsanya jadi lebih cerah. Jejak Pengajar Muda di desa-desa terpencil itu akan dicatat dengan pahala, akan di tandai dengan peluk persaudaraan dan bersemai dikenangan anak-anak desa hingga generasi mendatang. Kelak, setiap anak-anak ituberhasil meraih mimpinya, maka pahala Pengajar Muda selalu ada di dalamnya.[9]
          Daerah penempatan Pengajar Muda dapat dilihat pada tabel di halaman selanjutnya. Daerah tersebut tersebar di lima belas provinsi di Indonesia yang terdiri dari 16 kabupaten yang diperkirakan membutuhkan penanganan lebih dari para Pengajar Muda. (Tabel 1)

C.           KESIMPULAN
          Pendidikan adalah kebutuhan primer di era modern ini. Setiap orang berhak akan pendidikan, hal ini sudah dijamin oleh Undang-Undang Dasar 1945. Pendidikan adalah kebutuhan, bahkan sudah dianggap kebutuhan primer. Semua kalangan membutuhkannya, termasuk mereka yang tinggal di daerah 3T, terluar, terdepan dan tertinggal. Mereka butuh pendidik untuk memenuhi kebutuhannya akan pendidikan. Bukan hal sulit untuk memenuhi kebutuhan mereka ini. Sudah banyak orang di Indonesia yang memenuhi kebutuhan mereka atau bahkan hanya sekedar memikirkan dan mendermakan sedikit hartanya untuk pendidikan di sana. Cerita-cerita indah nan mengaggumkan banyak terukir di daerah yang belum terjamah kemoderenisasian pendidikan. Beberapa cerita tersebut berasal dari para pengajar muda yang berada di hanyalah salah satu cara untuk mendermakan diri di sana, masih banyak dan beragam cara yang dapat kita lakukan untuk membantu
Tabel 1. Daerah Penempatan Pengajar Muda
No
Provinsi
Kabupaten
1
Nanggroe Aceh Darussalam
Aceh Utara
2
Riau
Bengkalis
3
Sumatera Selatan
Musi Banyuasin
4
Sumatera Selatan
Muara Enimn
5
Lampung
Tulang Bawang Barat
6
Banten
Lebak
7
Jawa Timur
Pulau Bawean, Gresik
8
Nusa Tenggara Barat
Bima
9
Nusa Tenggara Timur
Rote Ndao
10
Maluku
Maluku Tenggara Barat
11
Papua Barat
Fakfak
12
Maluku Utara
Halmahera Selatan
13
Sulawesi Utara
Kepulauan Sangihe
14
Sulawesi Barat
Majene
15
Kalimantan Timur
Paser
16
Kalimantan Barat
Kapuas Hulu
Sumber: https://indonesiamengajar.org/tentang-pengajar-muda/daerah-penempatan/

mereka. Membantu  memenuhi hak mereka yang belum terpenuhi oleh janji pemerintah yang padahal mencerdaskan anak bangsa, tanpa terkecuali adalah janji kemerdekaan. Saat janji ini belum terpenuhi, apakah pantas kita dianggap sudah merdeka. Semoga hal ini menjadi renungan bagi semua kalangan, terutama bagi mereka yang dapat berperan langsung.
     
DAFTAR PUSTAKA
Ikhdah Henny & Retno Widyastuti, (ed). 2012. Indonesia Mengajar, Kisah para                                          Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Yogyakarta: Penerbit Bentang. ppx-7
Sadali. (2001). “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Role Playing terhadap  Aktifitas Guru dan Hasil Belajar Dalam Mata Pelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar”. [ON LINE] Tersedia: http://www.lppm.ut.ac.id/jp/Volume%202.1%20maret%202001/pengaruhpenerapanmodel_sadali.pdf . pp1-15. Diakses 30 Mei 2011. 22.25 WIB
Anonim. 2009. "Jumlah Sekolah di Jakarta Kini 5.005 Sekolah”. [ON LINE] Tersedia: http://disdikdki.net/news.php?cat=1&id=122. Diakses 28 Mei 2012.  20.17 WIB
Rizki Dewantoro. 2011. “Nasib Pendidikan Perbatasan Indonesia-Malaysia”. [ON LINE]. Tersedia:   http://diperbatasanindonesia.blogspot.com/2011/12/nasib-pendidikan-perbatasan-indonesia.html. Diakses 28 Mei 2012. 20.44 WIB
Anonim. 2012. “Mahasiswa Unhan Wajib Turun ke Perbatasan”. Tersedia: http://www.sospol.dharmawangsa.ac.id/berita-1046-mahasiswa-unhan-wajib-turun-ke-perbatasan.html. Diakses 30 Mei 2012. 22.35 WIB
Daerah Penempatan Pengajar Muda”. [ON LINE]. Tersedia: https://indonesiamengajar.org/tentang-pengajar-muda/daerah-penempatan/. Diakses 30 Mei 2012. 22.00 WIB 

Indonesia Mengajar. Tersedia: https://indonesiamengajar.org/media/uploads/images/PM1-RahmanAdi-Ngajar.jpg. Diakses 30 Mei 2012. 21.15







[1] Undang-Undang Dasar 1945 (versi amandemen) Pasal 31 ayat 3
[2]Anonim. 2009. "Jumlah Sekolah di Jakarta Kini 5.005 Sekolah”. [ON LINE] Tersedia:  http://disdikdki.net/news.php?cat=1&id=122. Diakses 28 Mei 2012.  20.17 WIB
[3]Rizki Dewantoro. 2011. “Nasib Pendidikan Perbatasan Indonesia-Malaysia”. [ON LINE]. Tersedia:   http;//diperbatasanindonesia.blogspot.com/2011/12/nasib-pendidikan-perbatasan-indonesia.html. Diakses 28 Mei 2012. 20.44 WIB
[4]Anonim. 2012. “Mahasiswa Unhan Wajib Turun ke Perbatasan”. Tersedia: http://www.sospol.dharmawangsa.ac.id/berita-1046-mahasiswa-unhan-wajib-turun-ke-perbatasan.html. Diakses 30 Mei 2012. 22.35 WIB
[5] Ikhdah Henny & Retno Widyastuti, (ed). 2012. Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Yogyakarta: Penerbit Bentang. px
[6] Ikhdah Henny & Retno Widyastuti, (ed). 2012. Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Yogyakarta: Penerbit Bentang. p7
[7] Ikhdah Henny & Retno Widyastuti, (ed). 2012. Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Yogyakarta: Penerbit Bentang. p7
[8]Sadali. (2001). “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Role Playing terhadap Aktifitas Guru dan Hasil Belajar Dalam Mata Pelajaran Pendidikan IPS di Sekolah Dasar”. [ON LINE] Tersedia: http://www.lppm.ut.ac.id/jp/Volume%202.1%20maret%202001/pengaruhpenerapanmodel_sadali.pdf . pp1-15. Diakses 30 Mei 2011. 22.25 WIB
[9] Ikhdah Henny & Retno Widyastuti, (ed). 2012. Indonesia Mengajar, Kisah para Pengajar Muda di Pelosok Negeri. Yogyakarta: Penerbit Bentang. pxii