Khairunnas anfa’uhum linnas, sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaat bagi orang lain

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri...

Berusaha bermanfaat bagi orang disekitar, kejayaan Islam, kebangkitan Indonesia dan diri sendiri..

Jumat, 22 Juni 2012

Al-Wala’ Wal-Baro’

Al-Wala’ Wal-Baro’ merupakan penjabaran ciri pribadi muslim yang pertama kali disebutkan, salimul aqidah. Pengertian secara kata dari Al-Wala’ Wal-Baro’ adalah loyalitas dan antiloyalitas. Terdiri dari dua kata, Al-Wala’ yaitu loyalitas dan Al-Baro’ yaitu antiloyalitas. Kedua kata ini merupakan suatu kesatuan layaknya dua sisi mata koin yang tak dapat berpisah dan saling melengkapi.

Konsep Al-Wala’ Wal-Baro’ tercakup dalam kalimat tauhid, LAA ILLAHA ILLALLAH (Tiada Tuhan Selain Allah). Kalimat tauhid ini terdiri dari hanya 3 huruf à Alif, Lam dan Ha. Terbentuk dari 4 kata, dengan penjelasan sebagai berikut.
1)       Laa artinya tidak atau penolakkan terhadap sesuatu yang berada di depan setelah kata tersebut. Makna tidak di sini ditekankan secara keras, menandakan suatu hal yang tidak dapat ditentang lagi.
2)       Illaha artinya sesembahan. Karena sebelum kata Illaha tertulis Laa, maka sesembahan di sini ditolak keberadaannya, maksudnya menjadi sesembahan yang ditiadakan.
3)       Illa artinya kecuali.
4)       Allah artinya Allah, Tuhan seluruh alam.

Konsep Al-Wala’ Wal-Baro’ juga sama seperti konsep atau makna kalimat syahadat, ASYHADU AN-LAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN RASUULULLAAH (Aku Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Allah Dan Aku Bersaksi Bahwa Muhammad Adalah Utusan Allah). Al-Wala’ dan Al-Baro’ layaknya Asyahdu an-lla Illaha Illallah dan Asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah, antara kata sebelum dan sesudahnya memiliki hubungan layaknya dua sisi koin. Saling melengkapi dan memang harus dilengkapi. Meyakini syahadat harus keseluruhan, begitu juga dengan Al-Wala’ Wal-Baro’.
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).”
(TQS An-Nahl ayat 36)

 -> Inti dakwah Nabi adalah mengingkari semua sesembahan kecuali Allah Azza Wa Jalla
 "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.  Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
(TQS An-Nisaa ayat 48)

 ->  Syirik merupakan dosa yang tidak akan diampuni.
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.”
(TQS Muhammad ayat 19)

 ->Mengapa Salimul Aqidah dijadikan ciri pribadi muslim yang pertama, ayat ini salah satu landasannya. Tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah.
“Tali ikatan iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah” (HR. Hakim, dihasankan Al-Albani)

 -> Iman mencapai titik kesempurnaan saat semua-semuanya adalah karena Allah.

Al-Baro’
Baro’ = pembebasan atau anti loyalitas. Al-Baro’ mengandung arti mengingkari, memisahkan diri, membenci dan memerangi terhadap sesuatu selain Allah.

Contoh sikap Baro’:
-         Sikap Baro’ ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as terhadap kaumnya. Ketika Ibrahim as menghancurkan patung-patung berhala kala itu.
-         Tawaran dari kaum kafir quraisy kepada Rasulullah, agar Rasul menghentikan kegiatan dakwahnya maka beliau akan mendapatkan kekuasaan. Dan pada akhirnya Rasulullah mengingkarinya

Diferensial atau turunan dari Al-Baro’ adalah Hadam (penghancuran). Baro’ itu hadam terhadap sekutu-sekutu selain Allah. Contohnya adalah kisah Nabi Ibrahim as saat menghancurkan patung-patung berhala dan peristiwa fathul makkah, dimana Rasulullah menghancurkan kurang lebih 360 berhala.
Baro’ membedakan muslim dengan kafir, membedakan hizbullah dengan hibusyaithon. Orang-orang beriman wajib mengajak orang-orang kafir dengan dakwah secara hikmah.

Al-Wala’
Al-Wala’ adalah loyalitas kepada Allah. Pengukuhan terhadap kekuasaan Allah. Selalu menaati, mendekatkan diri, mencintai sepenuh hati, membela, mendukung dan menolong, yang kesemuannya itu ditujukan kepada Allah, beserta agama dan hamba-hamba-Nya. Sifat wala’ yang dapat kita lakukan saat ini adalah wala’ terhadap saudara-saudara kita di Palestina, Suriah, Mesir (saat revolusi utamanya), Patani, Rohingya, dsb.

Salah satu bentuk loyalitas adalah sami’na wa atho’na (aku dengar dan aku taat). Taat kepada pemimpin yang adil.
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al Quran dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(TQS Yunus ayat 61-62)

 -> Tidaklah luput pengetahuan dan pengawasan Allah dari apa yang terjadi pada makhluknya.

Wala’ kepada Allah berarti selalu mendahulukan Allah, yakinlah akan janjinya pada Surat Muhammad ayat 7, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.”

Diferensial atau turunan dari Al-Wala’ yang pertama adalah Al-Bina (membangun). Membangun hubungan yang kuat dengan Allah, Rasulullah dan orang-orang yang beriman, serta sistem dan aktivitas kehidupan muslim.
“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
(TQS Al-Hajj ayat 41)
-> Ciri mukmim senantiasa menegakkan agama Allah

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
(TQS An-Noor ayat 55)
             ->Posisi kekhilafahan Allah peruntukkan bagi manusia yang membangun dinnullah.

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
(TQS Al-Hajj ayat 78)
-> Jihad di jalan Allah dengan sebenar-benarnya jihad adalah cara paling tepat untuk membangun dinnullah.
            -> Pengertian Jihad dalam Pandangan Islam
Kata Jihad berasal dari kata Al Jahd (ُالجَهْد) dengan difathahkan huruf jimnya yang bermakna kelelahan dan kesusahan atau dari Al Juhd (الجُهْدُ) dengan didhommahkan huruf jimnya yang bermakna kemampuan. Kalimat (بَلَغَ جُهْدَهُ) bermakna mengeluarkan kemampuannya. Sehingga orang yang berjihad dijalan Allah adalah orang yang mencapai kelelahan karena Allah dan meninggikan kalimatNya yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju surga. Di balik jihad memerangi jiwa dan jihad dengan pedang, ada jihad hati yaitu jihad melawan syetan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan. Juga ada jihad dengan tangan dan lisan berupa amar ma’ruf nahi mungkar. [1]
Sedangkan Ibnu Rusyd (wafat tahun 595 H) menyatakan, “Jihad dengan pedang adalah memerangi kaum musyrikin atas agama, sehingga semua orang yang menyusahkan dirinya untuk dzat Allah maka ia telah berjihad di jalan Allah. Namun kata jihad fi sabilillah bila disebut begitu saja maka tidak dipahami selain untuk makna memerangi orang kafir dengan pedang sampai masuk islam atau memberikan upeti dalam keadaan rendah dan hina” [2].
Ibnu Taimiyah (wafat tahun 728H) mendefinisikan jihad dengan pernyataan, “Jihad artinya mengerahkan seluruh kemampuan yaitu kemampuan mendapatkan yang dicintai Allah dan menolak yang dibenci Allah” [3].
Di tempat lainnya, beliau rahimahullah juga menyatakan, “Jihad hakikatnya adalah bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang Allah cintai berupa iman dan amal sholeh dan menolak sesuatu yang dibenci Allah berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan” [4].
              Tampaknya tiga pendapat di atas sepakat dalam mendefinisikan jihad menurut syariat Islam, hanya saja penggunaan lafadz jihad fi sabilillah dalam pernyataan para ulama biasanya digunakan untuk makna memerangi orang kafir. Oleh karena itu, Syaikh ‘Abdurrazaq bin ‘Abdul Muhsin Al ‘Abaad menyatakan bahwa definisi terbaik dari jihad adalah definisi Ibnu Taimiyah di atas dan beliau menyatakan: Dipahami dari pernyataan Ibnu Taimiyah di atas bahwa jihad dalam pengertian syar’i adalah istilah yang meliputi penggunaan semua sebab dan cara untuk mewujudkan perbuatan, perkataan dan keyakinan (i’tiqad) yang Allah cintai dan ridhoi serta menolak perbuatan, perkataan dan keyakinan yang Allah benci dan murkai. [5]

Turunan Al-Wala’ yang kedua adalah ikhlas. Pengabdian yang murni hanya dapat dicapai dengan sikap Baro’ terhadap selain Allah dan Wala’ terhadap Allah.
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
(TQS Al-Bayyina ayat 5)
->  Mukmin diperintahkan untuk berlaku ikhlas

“Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.”
Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.”
(TQS Az-Zummar ayat 11 dan 14)
-> Ikhlas adalah inti ajaran Islam (Laa illaha illallah)

Konsep Wala’ dan Baro’
1)       Allah sebagai sumber >> loyalti mutlak hanya milik Allah.
2)       Rasul sebagai cara >> maksudnya bersikaplah Wala’ dan Baro’ sesuai dengan yang telah Rasulullah contohkan.
3)       Mukmin sebagai pelaksana >> yang telah diperintahkan Allah dan dicontohkan Rasulullah.
Pelaksanaan Al-Wala’ dan Al-Baro’ tidak boleh asal-asalan.


[1] Al I’lam Bi Fawa’id Umdat Al Ahkam, Ibnu Al Mulaqqin, tahqiq Abdulaziz Ahmad Al Musyaiqih, cetakan pertama tahun 1421H, Dar Al ‘Ashimah, 10/267.
[2] Muqaddimah Ibnu Rusyd 1/369, kami nukil dari kitab Mauqif Al Muslim Minal Qitaal Fil Fitan, Utsman Mu’allim Mahmud cetakan pertama tahun 1416 H, Dar Al Fath 41 dan majalah Al Asholah edisi 21/IV/ 15 rabi’ul awal 1420 H hal. 43
[3] Majmu’ Al Fatawa, 10/192-193
[4] ibid 10/191
[5] Al Quthuf Al Jiyaad 5

sumber::
-         MR ana ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar